Alhamdulillah,

Takbir berkumandang di penghujung hari ke sembilan Dzulqa’dah, berganti menjadi hari raya Idul Adha yang indah. Saatnya berbahagia bagi seluruh umat manusia dengan berbagai status sosial, dengan berbagai latar belakang penghidupan. Yang diberi ujian cobaan berupa harta, hendaknya mampu membuktikan kepada Allah bahwa hartanya tidak sia-sia, berbekal taqwa ia mempersembahkan hewan terbaik untuk qurban, adapun yang diberi cobaan berupa kesempitan harta hendaknya sabar, dan selalu khusnudzon dengan apa yang Allah kehendaki. Berbahagialah, hari ini Allah melarang kita untuk berpuasa.

 

Alhamdulillah,.

Sepuluh tahun sudah, sholat idul Adha di perantauan, menuntut ilmu tiada jemu, di kawah candradimuka dengan lika-likunya, Semoga Allah selalu membimbing setiap langkah kaki kita, memberi jalan terang dalam meniti jalan, menapak bumi menggapai Ridho Ilahi, Aamiin…

 

Alhamdulillah…

Idul Adha kali ini bisa menunaikan sholat ‘id di halaman Masjid Jami’ Pondok Modern Darussalam Gontor yang tercinta. mengingat tahun lalu masih terbaring tak mampu berjalan selama dua bulan, Allah memberi cobaan berupa Herniasi Sumsum Tulang Belakang, atau istilah medisnya HNP, Herniated Nucleus Pulposus. Namun hanya dua bulan Allah menegurku yang selalu lalai untuk mengingat-Nya, akhirnya atas Izin-Nya melalui wasilah tim Medis, dan Alternatif, aku kembali bisa beraktifitas sebagaimana biasanya.

 

Alhamdulillah,

Setelah melewati suka duka belajar di perkuliahan, kini sudah sampailah ke ujung jalan menuju Strata satu. Bukan main-main, semester sembilan bukanlah angka yang biasa di bangku perkuliahan. Mudah-mudahan Allah memudahkan jalan kita untuk mencapai cita dan cinta kita. Amiin,..

 

Alhamdulillah..

22 tahun 6 bulan 4 hari terhitung aku memposting ini, aku telah memakan hasil bumi, menghirup udara dari bumi, membuang sampah ke bumi, yang hanya Allah-lah pemiliknya.. namun Allah masih memberiku kesempatan, entah sampai kapan,.. Semoga Allah menutup hidup kita dengan miskul Khitam, dengan khusnul khotimah. Aamiin…

 

Alhamdulillah,

Jika mampu kita menghitung nikmat Allah, kasih sayang dan Ampunan-Nya, dan kita mampu menghitung waktu yang Allah berikan kepada kita, berapa yang telah kita kembalikan kepada-Nya, berapa yang kita serakahi… (Ya Rabb… Ampuni aku…). Namun selalu saja, karunia Allah jauh lebih luas daripada maksiat yang telah aku jalani. Maksiat yang melambaikan tangan selamat datang, yang saat aku datangi, lalu menutup mataku membelai rambutku dengan bisikan-bisikan Syetan, hingga ku tertidur pulas… (na’udzubillah)…

 

Alhamdulillah….

Mari, jangan berhenti mengucap Alhamdulillah dengan lisan, hati dan perbuatan…

hendaknya untuk setiap nikmat yang Allah berikan, lisan mengucap Alhamdulillah, Hati mengucap Alhamdulillah, dan seluruh anggota badan mengucap alhamdulillah,.

Realitanya, aku hanya melantunkannya, itupun masih terbatas saat ada nikmat yang terlihat.

Jika kita hitung Nikmat-Nya, Tak akan ada habisnya,. ibarat Air laut jadi tinta, Dahan jadi penanya, akan habis sebelum selesai menuliskannya..

 

Sekian, Wassalam…

 

Studio Rekaman Gontor, 27 Oktober 2012